Kiwi, Eksotik dan Padat Gizi

Sekilas seperti buah sawo, berwarna cokelat dan sedikit oval bentuknya. Namun buah yang bila dikupas akan terlihat hijau atau ada yang berwarna kuning emas (gold) ini berbeda dengan sawo. Kulit buahnya berbulu dan rasanya manis.

Buah bernama latin Actinidia deliciosa ini sangat mudah kita temui di supermarket kota-kota besar di Indonesia dan memiliki komposisi kimia yang terdiri dari unsur-unsur non gizi dan gizi yang penting bagi kesehatan kita.

Padat Gizi
Untuk mereka yang menginginkan potongan tubuh yang singset dan langsing, kiwi bisa jadi pilihan ngemil di malam hari karena rendah lemak dan kalori. Menurut Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS, Ph.D guru besar bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB, kandungan energi dalam setiap 100 gam kiwi hanya 61 Kkal atau kurang dari 40 persen jumlah energi yang terdapat pada pisang.

Kandungan energi ini bahkan lebih rendah dibanding jeruk, lemon, stroberi, belewah, pepaya, orange dan anggur.

Selain unsur non gizi ini, kiwi dikatakan kaya gizi. Buah ini merupakan sumber asam amino argini dan glutamat. Arginin merupakan asam amino yang sifatnya menurunkan tekanan darah (vasodilator), meningkatkan aliran darah dan mengobati gejala impotensi.

Asam amino yang sama juga mencegah terjadinya plak pada dinding arteri terutama pada pasien angioplasty (bedah plastik pembuluh darah).

Beberapa vitamin yang terkandung dalam kiwi juga patut diacungi jempol. Dari hasil penelitian, kiwi mengandng vitamin C 17 kali lebih banyak dibanding buah apel, dua kali lebih banyak dibanding jeruk dan lemon.

Sementara kandungan vitamin E pada kiwi dua kali lipat lebih banyak dibanding alpukat. Masih ada kandungan vitamin B1, B2, B6, vitamin A, asam folat, niasin, dan asam pantotenat.

Vitamin C dan E merupakan senyawa antioksidan yang bermanfaat dalam menangkal radikal bebas yang biasa kita temukan dalamasap rokok dan asap kendaraan bermotor. Antioksidan ini berfungsi memperlambat penuaan dan memelihara sel-sel kulit agar tetap awet muda, mengurangi risiko terserang jantung koroner, dan mencegah kanker.

Jenis antioksidan lain yang bisa ditemui dalam buah kiwi antara lain karoten, lutein, xanthophyl, flavonoid. Menurut Made Astawan, kapasitas antioksidan terhadap senyawa radikal bebas ini menempati posisi ketiga tertinggi setelah orange dan anggur merah.

Sementara itu, kandungan mineral yang ada dalam buah kiwi antara lain kalium (potasium), magnesium, kalsium, tembaga, seng, mangan dan fosfor. Kandungan kalium 5,4 mg/kalori lebih tinggi dibanding pisang (4,2 mg/kalori) meski sedikit lebih rendah dibanding pepaya (6,6 mg/kalori) dan aprikot (6,2 mg/kalori).

Menurut Made, senyawa kalium berperan penting dalam menjaga fungsi toto dan gerak refleks sistem saraf. Kalium juga menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Karena itu, olehragawan dan pekerja berat dianjurkan mengonsumsi cukup kalium. Kalium juga diyakini mampu menurunkan tekanan darah.

Senyawa magnesium dalam buah kiwi termasuk yang tertinggi dari 27 jenis buah yang umum dikonsumsi. Padahal, rendahnya konsumsi magnesium, menurut Made dapat menyebabkan munculnya hipertensi dan penyakit jantung.

Karena itu, dalam bukunya yang berjudul Superfoods Healthstyle, Dr. Steven Pratt menyebutkan buah eksotik ini sebagai satu jenis buah atau makanan super karena kiwi menduduki rangking teratas dari segi gizi.

Journal of the American College of Nutrition bahkan menyatakan dari 27 jenis buah yang umum dikonsumsi, kiwi memiliki kepadatan nutrisi (nutrient density) paling tinggi.

Sumber Serat Larut dan Klorofil
Dalam berbagai penelitian disebutkan bahwa serat dalam makanan bermanfaat besar dalam mencegah berbagai penyakit. Dengan kata lain, kurang serat menimbulkan masalah bagi tubuh sepertisembelit, pengerasan pembuluh darah, ambeien, hernia, usus buntu , kanker usus besar, serangan jantung koroner, kencing manis dan munculnya batu empedu.

Karena itu konsumsi serat dalam kiwi pun berperan sama dalam menyehatkan tubuh. Serat yang terdapat dalam buah kiwi termasuk serat larut pektin

Sementara warna hijau yang biasa kita temui pada kiwi merupakan pigmen klorofil yang tidak berubah dalam proses pematangan. Klorofil ini, menurut Made Astawan, mempunyai sifat antimutagenik atau mencegah penyebaran gen penyebab kanker.

Klorofil juga melidungi sistem kekebalan tubuh lewat kemampuannya meredam reaktivitas senyawa radikal bebas. Karena itu, tak perlu ragu mengonsumsi buah cantik ini.

Sumber:Kompas.com